Monthly Archives: October 2011

Yamaha Tricker – Motor di Parkiran Tempat Kerjaku bagian I

Dalam artikel ini Akang ingin berbagi info tentang motor harian yang dipakai orang jepang untuk pergi ke kantor. Dalam hal ini terbatas hanya pada perusahaan tempat Akang bekerja saja. Pada artikel ini Akang perkenalkan Yamaha Tricker 250cc.
Berbeda halnya dengan di Indonesia dimana parkiran speda motor didominasi oleh motor bebek dan sebagian kecil motor sport itupun paling banter yang 250cc, di parkiran motor tempat Akang bekerja secara umum motor dibagi dalam 3 kategori yaitu kategori motor kecil 50cc, motor sedang 51-250cc dan motor besar >251cc. Yamaha Tricker yang Akang bahas dalam artikel ini merupakan kelas motor sedang 250cc.

Penampakan Yamaha Tricker di Parkiran Tempat Kerja Akang

Orang yang menggunakan motor sebagai kendaraan harian di Perusahaan Akang jumlahnya sangat sedikit, kebanyakan 90% (nilai kira2 aja nih :D) memakai kendaraan roda empat. Pada hari2 biasa (cerah, dan suhu tidak terlalu dingin) jumlah motor yang ada di parkiran bervariasi mulai dari 15 sampai 30 motor. Dari jumlah ini hampir tidak ada yang sama, kecuali beberapa tipe motor saja salah satunya ya si Tricker ini yang sampai dimiliki oleh tiga orang.

Riding Position dan Para Rider Pengguna Tricker.
Tricker memiliki bobot bersih 118 kg ditambah dengan kapasitas bensin 6 liter berarti kondisi full tank saja tidak lebih dari 124 kg, wooowww ringan banget kan masbro, apalagi untuk ukuran 250cc sama dengan Yamaha Vixion yang berat full tanknya 125kg. Ketinggian jok 31.1 inch dengan lebar jok yang kecil, sebagai pembanding Yamaha Vixion saja tinggi joknya 31.4 inch dengan jok yang lebih lebar. Para rider pengguna tricker yang Akang kenal berusia sekitar 30-40 tahun dengan rata-rata postur (maaf) pendek 160-165 cm.

Rider tingginya 171 cm dengan berat 60kg

Physical measures and capacities:
Dry weight                            :118.0 kg (260.1 pounds)
Power/weight ratio          :0.1610 HP/kg
Seat height                           :790 mm (31.1 inches) If adjustable, lowest setting.
Overall height                    :1,130 mm (44.5 inches)
Overall length                    :2,000 mm (78.7 inches)
Overall width                     :810 mm (31.9 inches)
Ground clearance            :270 mm (10.6 inches)
Wheelbase                          :1,330 mm (52.4 inches)
Fuel capacity                     :6.00 litres (1.59 gallons)
Chassis, suspension, brakes and wheels:
Frame type                           :Steel semi-double cradle
Front suspension               :Telescopic forks
Front suspension travel  :180 mm (7.1 inches)
Rear suspension                :Swingarm
Rear suspension travel  :172 mm (6.8 inches)
Front tyre dimensions   :80/70-MC19
Rear tyre dimensions     :120/90-MC16
Front brakes                      :Single disc, diameter 220 mm (8.7 inches)
Rear brakes                        :Single disc, diameter 203 mm (8.0 inches)

Spek Engine
Kuda besi satu ini ditenagai mesin 249cc single cylinder 4-cycle, SOHC, Air cooler, carburator sanggup memuntahkan power hingga 19 HP @7,500 rpm dengan torsi 18.8 Nm @6,250 rpm. Coba masbro bandingin dengan KLX250 yang memiliki power 18kW@9,000rpm dan torsi 21N @7,000rpm tapi memiliki bobot kosong 138kg.
Engine and transmission Specification:
Displacement               :249.00 ccm (15.19 cubic inches)
Engine type                   :Single cylinder, four-stroke,
Power                              :19.00 HP (13.9 kW)) @ 7500 RPM
Torque                            :18.80 Nm (1.9 kgf-m or 13.9 ft.lbs) @ 6250 RPM
Top speed                       :115.0 km/h (71.5 mph)1/4 mile (0.4 km):17.800 seconds
Compression                 :9.5:1
Bore x stroke                :74.0 x 58.0 mm (2.9 x 2.3 inches)
Valves per cylinder    :2
Fuel system                    :Carburettor. Mikuni MV33/1
Fuel control                   :SOHC
Ignition                            :CDI
Lubrication system     :Wet sump
Cooling system             :Air
Gearbox                           :5-speedTransmission type,
final drive                        :Chain
Clutch                                :Wet, multiple disc

Color Variation
Si Tricker tersedia dalam dua warna yaitu Tricker Black dan Tricker Orange. Di tempat Akang sendiri dari 3 motor ini 2 diantaranya si Tricker Hitam. Silakan dikunyah2 nih kedua penampakannya… 😀

Yamaha Tricker Black - Mantap buat yang gak mau gampang keliatan kotor 😀

Warna Silver sebagai dasar dan orange sebagai kelirnya membuat nuansa motor garuk tanah ini sayang kalau kena lumpur 😀

Harga dan kompetitor
Di jepang sini harga jual Yamaha Tricker 457,800 yen atau 50,3 jt (untuk kurs 1 yen=Rp 110). Akang cukup kesulitan mencari kompetitor yang sepadan, maklum si Tricker ini dari penampakan saja cukup nyeleneh, motor garuk tanah beraroma supermoto dengan dimensi terbilang kecil. Sebagai perbandingan Akang bandingkan dengan KLX250 seharga 528,000 yen (58,1 jt) dan Honda XR230 seharga 492,450 yen (54,2 jt). Secara dimensi KLX250 seharusnya tidak bisa dibandingkan secara fair karena terbilang agak besar sih 😀 Ditambah lagi kedua varian tersebut sudah 6 percepatan sementara Tricker hanya 5 percepatan saja.. Akang tidak menampilkan spek masing2 kompetitor, hanya nampilin penampakannya saja…

Kompetitor terdekat Tricker, XR230 Rp 54,2 jt - KLX250 Rp 58,1 jt

Berhubung yang ada di Indonesia untuk motor jenis ini hanya ada KLX250 dan jenis supermoto-nya D-Tracker 250,, masbro yang posturnya pendek mungkin agak kesulitan kali ya nunggangin nih motor 250cc, cocoknya kalau postur kecil nunggang yang 250cc ya Tricker. Terpaksa deh kalau mau cocok secara dimensi motor ya KLX125 atau Dtracker 125 yang dipilih karena secara dimensi lebih kecil daripada yang 250cc 😀

Keunggulan Fazer 150 (FZ16 aka Byson berfairing)

Menindaklanjuti artikel Akang tentang mencari tunggangan yang cocok dilihat dari biaya operasional dan gak bolehnya memilih tipe motor cruiser oleh istri akhirnya atas berbagai info dan racun2 dari kaskus maka dipilihlah Yamaha Byson. Kemarin Akang menyuruh istri untuk bertanya ke dealer yamaha mengenai inden si Kebo, dan diperolehlah keterangan membahagiakan masbro, katanya inden sekarang “hanya sebulan”. Inden bulan ini bulan depannya dianterin ke rumah :)…

Balik ke judul artikel ini, malam ini Akang nyari referensi harian pemakaian si Byson di India sana via youtube mulai dari perbandingan Byson dengan NMPreview Byson berkerudung (aka Fazer 150), dan terakhir curhatan pemilik Fazer 150. Khusus untuk curhatan fazer150 ada yang ingin Akang shared nih,,

Is Fazer a boring vehicle? Is it not fit for touring? Does It cuise at only 75 kmph? (Si Fazer membosankan? Gak cocok buat touring? Cuma bisa ngacir 75 kmpj?) Di akhir artikel ini Akang tampilkan jawaban si pemilik yang di-crop langsung dari youtube.

Sejatinya FZ-Series memang didesaign untuk daratan Hindustan. Negara yang luasnya hingga 3.3 jt km persegi ini kondisi sarana dan prasarananya tidak jauh berbeda dengan negara kita. Jalan tanah berbatu, medan yang sulit sampai jalan berlumpur. Sepertinya si Byson ini didesign agar bisa diterima di segala medan. Didesign dengan power dan torsi pada rpm rendah, sehingga konsekuensinya kurang galak di putaran atas, hal yang bekebalikan dengan Pulsar-series yang merupakan rival utama dari pabrikan lokal India. Coba masbro pikirin apa ada pemakaian motor harian yang kebut2an di atas 100km/jam di jalan tanah berbatu? yang dipake kan gear rendah pada putaran yang gak terlalu tinggi, kalau melihat faktor fungsional yang ini maka bisa dipastikan Byson dan FZ-series lebih superior dibandingkan varian pulsar.

Byson FZ-Series Mantap menembus belokan pegunungan berkabut

Byson FZ-Series dengan ban gambot mantap di jalan licin

Byson FZ-Series Handling yang mantap enak dipake rebahan di jalan berkelak-kelok pegunungan

Byson FZ-Series mejeng di jalanan pedesaan yang asri

Byson FZ-Series Menembus tanah basah berlumpur

Byson FZ-Series Menembus medan berat tanah kering

Byson FZ-Series menghadapi jalanan tanah berbatu

Byson FZ-Series menembus tanah berlumpur

Byson FZ-Series dipake touring ke pantai berpasir pun tetep Okeh!!!

Byson FZ-Series nyaman dipakai jarak jauh

Byson FZ-Series, review si pemilik nyampe 126 kmph padahal di Indonesia rata2 topspeed 115 kmpj

Semua gambar di atas bisa menjelaskan Is Fazer a boring vehicle? Is it not fit for touring? Does It cuise at only 75 kmph? Inilah alasan2 lain yang membuat Akang memutuskan untuk meminang si Kebo…

Design Headlight Yamaha New Scorpio Z yang “Seharusnya”

Pabrikan Yamaha biasanya memiliki nuansa yang selalu sama dalam mendesign motor2nya, tidak terkecuali untuk motor yang dijual di Indonesia. Dalam artikel ini Akang akan membahas sisi design Headlight Yamaha New Scorpio Z (yang akang sebut NSZ). Berdasarkan pengamatan Akang, design Headlight NSZ masih satu rumpun dengan XJ6, FZ8, dan Fazer 250.. Gak Percaya? Lihat deh gambar berikut:

Headlight Motor Naked Yamaha. Terlihat kemiripan headlight New Scorpio Z hasil "pengembangan" 3 varian Yamaha lainnya

Setuju gak kalau NSZ merupakan varian yang paling “buruk rupa” dibanding tiga varian lainnya? Entah hasil survey darimana si NSZ dicantolin design lampu seperti itu…  Hal ini terlihat dari rekor penjualan NSZ yang selalu kalah dari kompetitornya, Honda Tiger. Padahal dilihat lagi dari segi performance NSZ dengan mudah bisa mengasapi Si Harimau, ditambah lagi harga yang lebih murah tetep aja si NSZ tidak berkutik dalam hal penjualan. Dibanding sebelum facelift menjadi NSZ jumlah penjualan memang meningkat, tapi masak tetep mau kalah sama si Harimau,,, apa YMKI sudah merasa cukup ya,,, entahlah.

Secara pribadi Akang menilai seandainya bentuk headlight NSZ sedikit dipermak maka penjualan akan meningkat lho. Hal ini berkaca dari kasus Honda Tiger si mata satu gaya moge eropa yang “kurang” diterima sehingga memaksa AHM mengeluarkan versi Tiger headlight bulat. Lalu seperti apa revisi Headlight si NSZ ini?

Sedikit perubahan untuk mempermanis penampilan New Scorpio Z. Apa dengan bentuk seperti ini justru melenceng dari konsep awalnya?

Dibandingkan tiga keluarganya yang lain (Fazer 250, XJ6 dan FZ8) perbedaan utama headlight NSZ hanya berada pada bagian bawahnya saja. Pada 3 varian lain bentuknya meruncing kebawah, sementara si NSZ kesannya kotak. Dengan sedikit keahlian sotosop yang minim, Akang sedikit merubah design bagian bawah headlight agar kesannya sedikit melancip,,, dan hasilnya JREEEENG jadi manis ya 😀 Apa ini justru keluar dari konsep NSZ yang sangar? Badan kekar berotot koq wajahnya manis ya, hehehe.. Sah sah saja dong, si Byson aja kan konsepnya seperti itu.

Apa dengan bentuk yang manis bisa lebih diterima ya, atau justru semakin menambah julukan cacian si NSZ… Akang sih berkeyakinan lebih diterima masyarakat dan ujung2nya penjualan naik 😀

Mengenal Market Roda Dua Negeri Sakura Jepang

 Kali ini Akang sedikit berbagi tentang perkembangan roda dua di negeri Jepang, tempat Akang sekarang mencari makan. Informasi yang Akang coba ulas adalah perkembangan penjualan roda dua dari tahun 1980 secara umum tanpa klasifikasi model atau pabrikan, serta sedikit perbandingan dengan kondisi roda dua Tanah Air.

Grafik 1: Statistik Penjualan Roda Dua Jepang dari tahun 1980

Masa `golden age` penjualan motor di Jepang terjadi pada tahun 1981 dan 1982 dimana ketika itu berlangsung perang Yamaha dan Honda (disebut YH sensou = perang Y dan H) dimana pada saat itu kedua pabrikan berlomba2 menjadi pabrikan roda dua no.1 di Jepang dengan strategi banting harga dan mengeluarkan puluhan model. Pada masa tersebut penjualan roda dua mencapai 3.28 juta unit (kira-kira 40% dari total market Tanah Air saat ini).
Pada era tersebut terutama tahun 1980-1984 model yang booming adalah moped <50cc yaitu 80%-85% Masih gak bisa ngalahin bebek dan skutik kita yang tahun ini aja mendominasi sampai 92% lho! Untuk ukuran >50 cc sendiri bisa dibedakan menjadi 3 kelas yaitu
1. Motor Kecil (Kogata) 51 – 125 cc
2. Motor Sedang (Cyuugata) 126 – 250 cc
3. Motor Besar (Oogata) 251 cc keatas.
 

Khusus untuk ketiga kelas di atas tidak bisa ditentukan mana yang paling dominan marketnya karena saling berfluktuasi. Pada periode 1984-1992 kelas motor sedang lebih dominan penjualannya dibanding motor besar, tapi pada periode berikutnya sampai 1999 persentasenya bisa dikatakan tidak jauh beda. Begitupula pada penjualan motor kecil, meskipun secara umum penjualannya lebih dominan terhadap motor besar tetapi tidak terhadap motor ukuran sedang, dimana pada periode tertentu penjualannya lebih rendah dibanding motor ukuran sedang (lihat grafik 2). Masbro semua yang sudah lama malang melintang di dunia roda dua mungkin tahu faktor terjadinya fluktuasi pada market motor >50cc ini.
 

Grafik 2: Statistik penjualan roda dua Jepang berdasarkan ukuran

 Dari data yang Akang dapatkan penjualan roda Jepang dua tahun 2008 berkisar 520 ribu unit, hanya 1/6 dari masa keemasan di tahun 1981. Bila dibandingkan dengan penjualan kendaraan roda empat yang pada tahun 2008 berjumlah 5,08 juta unit, terlihat bahwa penjualan roda dua hanya 10%nya saja. Ini bertolak belakang dengan kondisi di Indonesia, berdasarkan data 2010 perbandingan penjualan motor terhadap mobil adalah 7.3juta berbanding 760 ribu unit, penjualan mobil hanya 10%nya…

Untuk analisis market share roda dua Jepang di tahun 2011 ini akan Akang bahas di artikel berikutnya (kalau lagi gak malas :D)