Category Archives: Honda

Antara Ninja 250 dan CBR 250R Mana yang Paling Cocok dengan Gaya Berkedaramu?

Artikel in adalah rangkuman obrolan antara Akang dan seorang calon pemilik Ninja 250cc yang lagi indent (sebut saja namanya “Meong” hehe sorry ya Bro,) di deket stand Honda salah satu mall Cianjur . Inti obrolannya mungkin bisa membantu orang yang lagi galau mau milih CBR250 apa Ninja 250 FI.

cbr250 big

Januari 2013, Akang ketika itu baru saja beres tanya-tanya simulasi kredit CBR 250R ke salah satu sales Honda

Meong: “Kang, mau beli CBR ya?”
Akang: “Insya Allah, kalau ada rezeki dan polda mengijinkan! hehe”
Meong: “Bukannya bagusan Ninja 250 ?! CBR modelnya ngegembung kopong gak berisi beda ma Ninja, Ninja suaranya knalpotnya khas, CBR sih kaya megapro, saya aja ngambil Ninja minggu kemarin, katanya lagi kosong bulan depan baru dikirim.”
Akang: “Suaranya n modelnya emang kerenan Ninja tapi kalau karakter mesin sih Akang lebih cocok CBR”
Meong: “Maksudnya gimana Kang?”
Akang : “Mesin CBR tarikan awalnya enak, betot gas dikit langsung ngacir, kalau ninja harus bleyer-bleyer dulu sampai rpm tinggi baru tenaganya keluar tuh!”
Meong: “yang bener aja, lebih cepetan Ninja lah!, seher nya (baca :silinder) aja dua tuh, masa kalah sama CBR”
Akang: “Kalau putaran atas di rpm tinggi sih jelas cepetan Ninja mas, tapi Akang gak butuh itu koq, yang penting enak stop n go, torsi gede biar kalau jalan-jalan ke puncak di tanjakan nyalip truk dan bus sekali betot dah melesat, trus beda harga lumayan tuh mengurangi jumlah cicilan, hahaha!”
Biar Meong gak merasa terserang dengan perkataan Akang terus akang tambahin
Akang: “Kalau Mas Meong sukanya trek-trekan, suara knalpot menggelegar stereo dua seher, motor dimodifikasi biar kaya MotoGP bagusnya sih Ninja! CBR cocoknya motor touring, modelnya kolot apalagi lampu depannya sebenernya gak suka (dah kaya celana dalam, wkwkwk!)

Obrolan tiba-tiba terhenti karena ceweknya (apa istrinya ya?) memanggil karena belanjanya dah beres tuh!

Perbandingan karakter mesin CBR vs Ninja

Dari obrolan di atas, dengan mudah dapat pembaca simpulkan bahwa Akang jauh lebih memilih CBR 250 dibanding Ninja 250R, Motor yang dari sebagian besar kalangan blogsphere dicaci maki gak akan bisa ngalahin Ninja 250 “hanya” karena single silindernya. Dilihat dari model sih jelas akang seneng banget sama Ninja 250 tapi dilihat dari spek mesin dan test ride langsung di lapangan Akang tidak ragu memilih CBR250 ketimbang Ninja 250.

Mesin single silinder CBR versus double silinder Ninja di mata Akang bukan suatu kelemahan, justru karakter mesin single silinder CBR 250R yang tenaganya keluar pada putaran rendah sesuai karakter berkendara Akang. Ketika nunggang si Kebo Byson rentang bukaan gas yang biasa Akang puntir ya sekitar 5,000 rpm s.d 7,000 rpm (udah bisa ngacir 70km/h versi speedo byson) dan itu cocok banget dengan CBR 250 dimana output power dan torsi puncaknya keluar di rentang 7,000 -8,500 rpm (lihat tabel perbandingan di atas deh!), apabila Akang menaiki Ninja 250R bisa dipastikan harus mengubah riding style yang sudah terbentuk selama 10 tahun (sejak bisa motor tentunya pake Supra-X dan Jupiter-Z). Di lihat dari bobot kendaraan CBR250 juga lebih ringan 11kg ketimbang Ninja 250, agak lebih gampang digeser2 di parkiran atau dimasukin ke dalam rumah (maklum masih rumah rajel alias rakyat jelata, garasinya kagak ada…kedepannya gak tahu nih, kayaknya pindah rumah, Siapkan cicilanmu !!! )

Untuk hawa mesin, ketika Akang test rideCBR 250  hawa mesin gak terasa panas, gak ada bedanya dengan si Kebo Yamaha Byson Akang sekarang. Sedangkan untuk Ninja yang pernah Akang coba yang tipe karburator, angin dari mesin sedikit terasa hangat (tapi kayaknya kalau Akang Bawa kerja dari Cibitung Bekasi ke Sudriman Jakarta bisa matang nih paha atas!) gak tahu kalau yang baru tipe FI ya,,, katanya sih sudah gak panas.

Seandainya akhir tahun depan seperti yang diberitakan Yamaha mengeluarkan motor 250cc, Akang sih berharap spesifikasi mesinnya dua silinder dengan power yang bisa diperoleh pada kisaran 9,000 rpm (CBR 250 pada 8,500 rpm dan ninja 250 max pada 11,000 rpm), kalau model dan handling sih percaya ma Yamaha, minimal sejajar ma Ninja 250 dan pasti lebih keren dari CBR250, (sorry Honda ya…) trus kalau bisa launchingnya di awal 2015 aja, biar tabungannya cukup dulu! hahaha…. Siapkan cicilanmu! (jangan lupa dana tabungan buat pendidikan anak, cicilan rumah, asuransi, cicilan mobil…. daaaaaan akhirnya gak jadi beli Motor 250cc! wkwkwkw, just keeding)

Akang, October 2013

Advertisements

Request Bro Elvis Gorontalo: Motor Harian Premium Terbaik Rentang 30jt-40jt

…. jadi kayak gini pertanyaannya (tolong kasih pandangan ya bro ) : untuk harga 30 sampai dengan 40 juta… motor yang paling pas dengan badan ane 178 cm berat 70kg (umur 29 thn) kira2 motor apa ya??? motor ini rencananya bakal di pake buat harian (rumah-kantor, dll). sampe skarang yang ane tau di harga segitu pilihannya : CBR 250r, CBR 150r, Ninja KRR (2-tak). trus trang ane bingung+stress+dll dalam beberapa hari ini……tolong dibantu ya!!!!!!!!!!!

Kalimat di Atas adalah pertanyaan dari Bro Elvis Charles Deu dari Gorontalo. Di tengah kejenuhan dan stress pekerjaan akhirnya semangat menulis di blog kembali muncul.. minimal memberi sedikit informasi seorang pengunjung blog Akang ini 😉

Untuk motor premium (premium menurut mayoritas masyarakat Indonesia) yang ada di kisaran 30-40jt sekarang adalah CBR 150 (33 jt), CBR 250 (40 jt) dan New Ninja KRR (34.3 jt) itu adalah OTR di Jakarta ya,, di Gorontalo sana  jelas harganya lebih tinggi karena ada biaya transport dan pajak daerah, mungkin lebih mahal sampai 2-3jt kali ya… (Maaf ya Megelli 250 tidak Akang masukkan karena berbagai alasan!) Sekarang akan Akang bahas satu persatu dari ketiga model tersebut berdasarkan pengetahuan yang Akang punya dan data2 spesifikasi yang ada.

Model baru dan Motor Baru 30-40jt beberapa bulan mendatang.
Sebelumnya Akang bahas dulu beberapa model baru dalam rentang 30-40 juta.. Seperti sudah kita tahu dari berbagai media pihak Suzuki mengkonfirmasi akan menghadirkan GW250 di 2012 ini, sepertinya paling lambat pertengahan tahun (untuk data lengkap dan spesifikasi perbandingan dengan CBR 250 silakan lihat di sini) Sedangkan untuk model facelift akan hadir New Kawasaki 150RR. Ninja 2 tak ini menurut informasi yang Akang dapatkan tetep menggunakan mesin yang sama, hanya terdapat perubahan cover body luar saja.
Untuk yang ada waktu sampai pertengahan tahun mungkin lebih bijak ditunda dulu beli motornya kali ya, nunggu kemunculan GW250,, tapi bagi yang ngebet sekarang pilihannya terbatas pada cbr 150r, cbr 250r dan Ninja 150KR.

Sisi Design dan Style Motor

Dari Sisi design ketiga motor merupakan model full cowling (berfairing) CBR 150R dan CBR 250R yang merupakan model paling baru sepertinya lebih unggul (di mata Akang ya!!) ketimbang gaya full fairing klasik Ninja 150RR bahkan New Ninja 150RR pun masih kalah style dibanding CBR-series. Seandainya masbro beli Ninja 150RR sekarang, dalam satu dua bulan kedepan ketika ada 150RR baru maka akan semakin kelihatan jadul saja..  TAPIII… hal ini bukan masalah kalau masbro suka design klasik Ninja 150RR yang sekarang. Dalam hal selera, jangan dengerin kata orang,, toh kita sendiri yang mersakan kepuasan.

Gambar New Ninja 150RR didapat dari asmarantaka.wordpress.com

Coba perhatikan gambar di atas masbro, gaya Ninja 150RR yang baru terlalu memaksakan niru Ninja 250 sehingga tidak ada harmonisasi antara tanki, garis cowling/fairing depan dan body belakang. Kalau dilihat secara perbagian mungkin bagus tapi bila dilihat secara motor keseluruhan jelas acak2an.. Jauh banget dengan cbr-series dimana design keseluruhan merupakan suatu kesatuan harmonisasi yang unik dan berkelas.. IMHO

Berat, Dimensi Motor dan Riding Position

Berdasarkan tinggi badan Elvis Charles Deu yang 178cm, 70kg Akang pikir sih dari riding position cocok menggunakan motor apapun baik cbr-series ataupun ninja 150KRR.. Tidak satupun yang ketinggian. Kalau soal riding position bisa dipilih sesuai selera. Ninja lebih ke sport dengan posisi berkendara lebih nunduk dibanding cbr-series yang beraroma motor harian dengan posisi berkendara lebih tegak (cbr 250 dan cbr 150 memiliki riding position yang hampir sama percis).. Kalau untuk harian yang mengutamakan kenyamanan dengan sesekali touring jelas Akang saranin pilih cbr-series. Tapi kalau masbro suka menggenjot adrenalin sejak gas dipuntir, jelas Ninja 150RR memberikan sensasi riding position sporty yang diperlukan,, tapi dijamin mudah lelah dan gak nyaman dibawa touring dan harian di lingkungan macet.

Dari kecocokan tinggi dan berat badan 178 cm berat 70 kg perawakan tinggi langsing, kayaknya lebih cocok dengan Ninja 150RR yang memiliki berat kosong 128 kg (paling ringan diantara ketiganya) disusul cbr 150 dengan berat kosong 138 kg, body cbr 150R sedikiiiit lebih kecil daripada cbr 250 yang berat mencapao 161 kg, kalau sekilas sih kedua cbr gak akan kelihatan beda, baru kalau dijajarin kelihatan bedanya! Faktor berat motor ini akan terasa kalau masbro parkir atau masuk keluar gang. Apalagi seandainya masbro kerjanya di lapangan sering berpindah tempat dan harus parkir di berbagai tempat, jelas body yang ringan lebih Akang saranin. Kalau kerjanya Cuma di kantoran masuk pagi pulang sore,,, frekuensi parkir Cuma sesekalai,, motor berat juga gak
masalah kali ya… :mrgreen:

Feeling dan Kenikmatan Berkendara (Performance??)

Untuk hal kenikmatan berkendara jelas berbeda2 tiap orang dan tergantung cara berkendara juga. Apalagi dari ketiga motor di atas karakternya berbeda semua. CBR 250R memiliki power dan torsi yang besar rpm rendah dan menengah (Max Power 27PS @8,500rpm Torsi 23Nm @ 7000rpm) dengan bukaan throttle gas sedikit pun dengan ringannya bisa ngacir dengan top speed lebih dari 150km/jam. Bagi pemakai harian yang sesekali touring jauh dan suka kebut2an Akang saranin banget. Kelemahan karakter mesin putaran rendah ini bagi orang Indonesia adalah suara yang dihasilkan,,, walaupun 250cc dan mesin dohc tapi sama aja suaranya dengan new megapro 150cc sohc karena beroperasi pada putaran rpm yang hampir sama :mrgreen:

CBR 150 berbeda dengan CBR 250 disetting untuk mengeluarkan power di putaran mesin tinggi ( 17.8PS @10,500 rpm) cocok bagi yang suka kebut2an pada high rpm… Kelemahannya ya lemah di putaran bawah. Kalau masbro pernah memakai Yamaha Vixion mungkin bakal merasa cbr 150 lemah ketika start lho (Meskipun sama-sama 150cc, Vixion disetting pada rpm rendah dan menengah seperti halnya cbr 250). Perlu masbro ketahui bahwa mesin dohc 150 juga dipakai Suzuki Satria dengan power yang lebih rendah ketimbang cbr 150, tapi dengan body Satria fu yang kecil membuat motor ini lebih lincah di akselerasi awal, tapi jelas kalah stabil saat kecepatan tinggi karena body bebeknya inferior dibanding body motor sport cbr 150 CMIIW. Nilai positif bagi mesin dohc cbr 150 yang berkarakter putaran tinggi adalah kepuasan saat motor di putaran tinggi, apalagi ketika knalpot sudah diganti dengan aftermarket. Feel berkendara ketika knalpot meraung di putaran 9-10 ribu rpm dibandingkan 7,000 rpm motor lain dengan speed yang sama feel berkendaranya sangat berbeda!!! dan itu kenikmatan tersendiri bagi rider cbr 150…

Untuk Ninja 150 RR performa tak diragukan lagi. Walaupun 150cc tapi power sangat mumpuni 30.1 ps @10.500 rpm Torsi 21.6 Nm @9,000 rpm bahkan mampu mengungguli CBR 250R. Kenikmatan terbesar mengendarai Ninja 150 adalah saat mekanisme super kips bekerja di putaran tinggi (7000-8500rpm???) dimana terjadi kenaikan power secara signifikan dan menimbulkan sensai yang berbeda dibanding mesin 4 tak. Kenikmatan dan sensasi lain yang didapat dari mesin 2 tak adalah suaranya yang garing, tapi ini sekaligus jadi kelemahan karena banyak orang misalnya Akang sendiri benciiiii banget ma suara mesin 2 tak 👿

Untuk performa Akang gak bisa kasih rekomendasi, kembali ke individu masing2 lebih suka yang mana… Seperti yang Akang tulis di atas semua ada keuntungan dan kekurangannya.

Sisi Teknologi dan Jaminan Sparepart
Secara umum ninja 150 menggunakan mesin teknologi 2-tak yang konon berdasarkan info yang Akang dengar sih Cuma ada di Indonesia. Teknologi  ini tidak ramah lingkungan dan kemungkinan besar tidak akan bertahan seandainya kebijakan Euro 3 diberlakukan. Bisa jadi sebuah berkah karena masbro memiliki motor 2 tak generasi terakhir atau juga suatu musibah seandainya motor discontinue dan ketika ada masalah masbro kesulitan mencari sparepart. Tergantung masbro melihat dari sudut pandang mana. Ya walaupun setelah discontinue pabrikan wajib menjamin ketersediaan part 10 tahun mendatang dan strtuktur mesin 2-tak bisa ditangani bengkel pinggir jalan sekalipun,, kekhawatiran ketiadaan sparepart pasti ada.

Sebaliknya cbr-series apalagi cbr 250 menggunakan teknologi mesin 4-tak generasi terbaru Honda global. Terutama penggunaan sistem injeksi yang ramah lingkungan sudah lolos regulasi Euro 3… sehingga lebih terjamin di masa mendatang baik sisi service maupun suplai sparepart. Hal negatif dari teknologi ini adalah apabila di Gorontalo sana service center Honda belum siap menangani nih motor… Walaupun saya yakin di tahun kedua pemasaran
cbr 250 sepertinya bengkel resmi Honda pasti sudah sangat siap,, sekali lagi
kekhawatiran pasti ada toh 😉

Fuel Consumption
Hmm,, maaf nih ya, mau sedikit nyindir temen Akang yang mau beli cbr 150R tapi mau ngasih minum premium dan memikirkan keiritan. Jangan pernah pikirkan effisiensi bahan bakar bila masbro beli motor premium di atas 30 juta. Kalau masih mikirin hal ini mendingan lebih baik masbro pikir ulang deh untuk beli motor kelas ini, karena berarti kebutuhan pokok hidup yang lain masih harus diperhatikan dan artinya masbro maksa2in beli motor ini! IMHO.
Yang ingin Akang bahas adalah pemilihan konsumsi bahan bakar. Berhubung bro Elvis ada di Gorontalo Akang gak tahu apa suplai bbm pertamax disana lancar atau tidak.. Hal ini dikarenakan cbr 250 direkomendasikan menggunakan pertamax, pun juga dengan cbr 150,, tapi keuntungan cbr 150R ini adalah adanya sistem injeksi khusus untuk Indonesia dimana timing pengapian bisa menyesuaikan bila terpaksa disuplai bbm premium… (ingat ya premium buat warga yang memerlukan subsidi, bukan untuk masbro yang kebeli motor 30jt ke atas!) kalau Ninja 150RR rekomendasinya memang menggunakan premium karena kompresinya yang rendah… CMIIW

Kesimpulan
Kalau masbro senang dengan sensasi suara mesin 4-tak di rpm tinggi cbr 150R pilihannya, lebih ringan dari CBR 250 dan masih bisa dikasih minum premium sayang kurang menggigit di putaran rendah dan dari segi performance paling rendah dibanding 2 motor lainnya. Kalau masbro suka kebut-kebutan mompa adrenalin, tidak terlalu concern pada lingkungan, tidak memikirkan kalau dalam 3-4 tahun mendatang mesin 2-tak bakal distop produksinya, senang suara knalpot garing 2-tak, suka motor yang ringan gak ribet,, Ninja 150rr pilihannya, Secara pribadi nih kalau Akang disuruh milih… pilihan terbaik adalah CBR 250R . Style, Performance, Teknology dan Gengsi semua dapet… sebanding dengan harga yang dikeluarkan.. IMHO Meskipun bodynya berat,, buat masbro Elvis yang tingginya 178cm sepertinya gak jadi halangan kan apalagi di Gorontalo gak ada macet kaya di Jakarta… 😉

CBR 250R Merah Modifikasi Cover Carbon Print..

Tadi pagi saat pergi ke kantor tepat di lampu merah, Akang menihat penampakan CBR 250 merah. Tapi koq sedikit aneh karena warna motor 250cc ini ada yang aneh,,, merah-hitam. Sepengetahuan Akang cbr 250r yang dipasarkan di sini adalah merah-silver. Setelah diteliti,, woww ternyata bukan warna hitam biasa melainkan “carbon print”. Waktu itu tidak sempat motret penampakan dikarenakan Akang memakai sarung tangan. Setelah dicari di Internet berikut penampakannya..

     

Itu baru cbr 250r merah,, yang hitam lebih keren lagi lho :mrgreen:

 

 

 

 

 

 

CBR 250R Modifikasi Black Carbon plus sandaran boncenger

Bagi yang berminat silakan datang ke dealer2 honda terdekat,,, tapi bukan Honda Indonesia melainkan Honda Jepang,, wkwkwk :mrgreen:  Silakan langsung meluncur ke situsnya,,, (click gambar di bawah) AHM kapan nih memfasilitasi accesoris ginian 😕 【Akang】

Mengintip Konsep Design Produk Global Honda PCX 125

Sejenak Akang berhenti dulu menulis tentang motor2 yang ada di parkiran tempat kerja, sebagai selingan corat-coret dikala senggang, kali ini Akang akan menulis tentang konsep design produk Honda yaitu PCX 125.

Benarkah motor yang penamaannya diambil dari pendekatan Personal Comfort Xaloon Scooter ini (koq jadi PCX harusnya PCS :mrgreen: ) memang didesign untuk masyarakat Eropa atau ditujukan juga untuk orang Asia? berikut penjelasannya Akang rangkum langsung dari hasil wawancara para designernya dan dari situs Honda Jepang langsung.

PCX didesign berdasarkan dasar heterogenitas berbagai negara dimana terdapat perbedaan kultur dan budaya berkendara, perbedaan jalanan dan kondisi lalu-lintas. Semua hal tersebut coba disatukan pabrikan Honda dalam satu bentuk design motor PCX 125, Konsep designnya sendiri adalah sebagai berikut
1. Dipakai sebagai kendaraan harian
2. Nyaman ketika dipakai,
3. Berkelas atau Lux
4. Bisa diterimas seluruh dunia tidak hanya Eropa tetapi juga Asia.
Banyak sekali kesulitan dalam mendesign motor yang bisa diterima semua kalangan, contohnya saja ukuran motor, suspension dan ukuran ban. bagi kalangan Eropa mungkin spek ini bagus tapi bagi orang Asia Tenggara tidak diterima,, sungguh jelimet!
Ukuran body yang sekarang dipilih merupakan design yang paling cocok. Bagi orang Asia yang biasa memakai skuter kecil seperti Honda Beat atau scoopy, PCX diharapkan tidak terlalu kebesaran, sementara bagi orang Eropa yang banyak menyukai skuter besar seperti Honda Forza tidak merasa PCX 125 ini kekecilan… sulit juga ya :mrgreen:
Khusus untuk suspension, bagi orang2 kita mungkin ada yang merasa terlalu keras. Honda sendiri bukan tak memahami hal ini, tapi hal ini sudah termasuk range toleransi karena bagi orang Eropa sana banyak yang juga merasa terlalu empuk,, nah lho 😀 Di Asia tenggara misalnya Indonesia keadaan jalan masih sangat jelek dimana ukuran ban yang cocok normalnya 14-17inch seperti halnya motor skutik dan bebek kebanyakan, berbeda dengan di Eropa dan Jepang dimana skuter tuh ukuran bannya hanya 10-12inch,,, untuk hal ini masyarakat Eropa dan Jepang terpaksa ngalah deh,, hehe karena yang dipilih untuk PCX adalah ban ukuran 14inch..
Awalnya PCX didesign dengan jarak sumbu roda yang panjang layaknya big scooter Eropa namun karena keadaan lalulintas padat di negara2 ASEAN panjangnya wheel base merepotkan dalam bermanuver, makanya untuk PCX ini jarak wheel base dipangkas jadi 135mm.. tapi menurut Akang tetep aja PCX lebih ribet nembus macet ketimbang beat atau mio :mrgreen:

Pemilihan mesin yang hanya 125cc merupakan satu keputusan yang cukup sulit. Pemilihan mesin ini didasarkan pada kebijakan yang diadopsi sebagian negara di Uni Eropa dimana remaja berusia 16-18tahun dibatasi hanya boleh mengendarai motor paling banter 125cc serta orang dewasa yang tidak memiliki SIM motor tetapi memiliki SIM mobil diperbolehkan mengendarai motor sampai 125cc.. Makanya atas konsep “bisa dierima seluruh kalangan” inilah kapasitas mesin 125cc dipilih, mau gak mau PCX di sebagian negara Eropa sana disebut sebagai motor “first kategory“.
Sebagai produk global, Engine dan teknologi yang disematkan pada PCX ini harus mumpuni sebagai motor cc kecil kelas premium. power maximum 11.5PS/8,500rpm dan torsi 12N.m/6,000rpm yang dihasilkan mesin sohc 125cc water cooler ini jelas lebih bertenaga dibandingkan skutik di Indonesia kebanyakan, kayaknya cocok juga dibawa touring 😀 dan untuk kalangan Eropa setidaknya harus bisa bersaing dengan spek mesin skutik2 eropa lainnya yang secara kasta bukan kelas first kategory seperti Vespa LX150.
Akang merasa lucu bila baca artikel2 yang menginginkan PCX upgrade jadi 150cc,,, secara teori sih bisa saja tapi khusus untuk yang dijual di Indonesia saja. tapi hal itu tak segampang membalik telapak tangan lho (Jangan bayangin kalau upgrade kapasitas engine hanya cukup dengan bore up doang ya!!!). Riset engine khusus 150cc yang hanya ditujukan untuk pasar skutik premium Indonesia/negara asean sepertinya dari cost tidak masuk hitung2an,,, Coba masbro pikir dengan market kurang dari 500unit/bln apa bakalan naik drastis hanya karena kapasitas mesin naik dari 125 jadi 150cc,, doesn’t make sense!! yang ada harga yang naik 👿
jenis bahan bakar yang digunakan adalah pertamax karena kompresi nih motor 11:1, konsumsi bbm dari mesin yang menggunakan supplay bahan bakar fuel injection ini adalah 53km/ltr pada kecepatan rata-rata 60km/jam tanpa menggunakan iddling stop system, bilda iddling stop system dihidupkan katanya sih bisa lebih irit sampai 7% (tergantung kondisi lalu-lintas).[Akang]

 

Mengintip Proses Design Body Motor Honda

Penasaran dengan proses design sang kuda besi? Honda Jepang memberi bocoran via home pagenya tuh.. Namanya juga bocoran, pastinya dikit dong, dalam hal ini hanya tentang “konsep design body luar motor” saja. Tapi lumayan lah buat nambah informasi… Mungkin masbro banyak yang sudah tahu, tapi tak ada salahnya Akang mengulasnya kembali.

1. Penentuan Konsep Dasar Design

Dari proses inilah proses design sang kuda besi dimulai. Langkah pertama adalah membuat gambaran dimana akan dipasarkan, siapa yang akan menggunakannya, dan digunakan untuk apa tunggangannya. Para designer harus bisa memposisikan dirinya sebagai user, tidak jarang harus pergi langsung menemui calon/target pemakai dan langsung merasakan atmospher dimana si motor akan digunakan.

Photo bawah ini memperlihatkan suasa event Daitona Week di Florida, dimana di situsnya Honda tertulis event ini merupakan tempat dimana kosep CBR 1000RR Fireblade 2004 dirumuskan. Sudah jelas kan CBR 1000RR berkonsep motor sport superbike.

2.  Sketch

Dalam Proses ke-2 ini, konsep yang sudah dirumuskan dituangkan dalam bentuk gambar. Ide-ide yang ada di otak dituangkan dalam bentuk visual tentunya dengan mempertimbangkan aspek fungsi/kegunaan. Sketch tampak kanan-kiri, depan-belakang, sampai sketch perbagian juga dibuat. Hasil sketch ini bisa beratus2 lembar lho! wowww,, gak habis2 ide kreatifnya ya 😕

Sketch wajah dan ekor CBR 1000RR Fireblade

3. Proses Rendering

Dari gambar sketch ini dilakukan proses rendering untuk melihat efek 3-Dimensi. Dengan adanya proses ini sketch garis2 body  yang dibuat bisa diukur tingkat “kedalaman” dan “ketegasan” serta bisa divariasikan dalam banyak pilihan warna. Bukan hanya motor secara keseluruhan tapi detail perbagian juga dibuat renderingnya. Banyak kasus dimana sketchnya kelihatan bagus tapi setelah direndering koq jadi terlalu kompleks.

Hasil rendering ini merupakan gambar prediksi yang paling mendekati bentuk akhir dari si kuda besi. Bukan cuma tim designer saja, divisi2 lain pun terlibat dalam penilaian dan pengambilan oke tidaknya design setelah dirender.

Kali ini Akang selain menampilkan gambar rendering dari CBR 1000RR juga menampilkan gambar rendering design CBR 250R yang merupakan produk global Honda. Konsep designnya sendiri adalah motor sport 250cc beraroma moge namun nyaman dipakai harian di lingkungan Asia. Sketch awalnya sendiri dikumpulkan dari R&D  seluruh cabang Honda di dunia kemudian dipilih satu yang paling mewakili (apa iya langsung dipilih ya…)

Kedua gambar rendering paling atas terlalu sporty kayaknya ya,, akhirnya dipilih design yang bawah

 4. Proses Pembuatan 1:1 Clay Model

Setelah gambar rendering memperoleh persetujuan semua pihak, gambar ini kemudian dibuat  aslinya dari clay (tanah liat). Sebenernya tujuan proses ini adalah mengkonversi gambar rendering 2-D dalam bentuk 3-D. Proses ini sebenarnya gampang saja dilakukan di atas software, di sinilah keunikan manusia sebagai mahkluk yang memiliki cipta rasa dan karsa, sebagus apapun design di atas komputer/cad tapi saat dibuat versi aslinya kelihatan banyak kekurangan.  Selain itu bagian2 yang hubungannya dengan kenyamanan dan fungsi seperti ketinggian dan lebar jok, riding position, sudut pandang terhadap speedometer jelas merupakan hal yang harus dirasakan langsung yang sulit direfleksikan dari gambar 3D semata. Proses pembuatan clay diserahkan pada team designer khusus, biasanya orang2 seni tuh…

Hasil clay model ini nantinya dipresentasikan pada tiap divisi, terutama divisi produksi. Mereka harus bisa memprediksi apakah bentuk design clay tersebut bisa dibuat dan apa saja tingkat kesulitan produksinya, kemudian memprediksi biaya pembuatan, kan ujung2nya DUIT 😀 terakhir  memberi masukan  ke pihak design apa saja yang harus diperbaiki.

5.  Data Scan (Conversi menjadi data Digital)

Setelah design clay disetujui (tentunya dengan perbaikan2) proses berikutnya adalah mengkonversi ke dalam bentuk data digital. Dalam gambar berikut diilustrasikan hasil design clay  CBR 1000RR di scan dengan scanner 3D. Data hasil scan ini selanjutnya dikirim pada divisi design  engineering  untuk diolah sedemikian rupa dengan output utama “drawing” yang dijadikan acuan utama dalam produksi.

Clay CBR 1000RR lagi di-scan 3D

6. Mock-up Model

Mock-up model ini dibuat mengacu pada drawing sementara hasil scan model clay, kemudian diberi warna seperlunya. Pada tahap inilah spesifikasi detail setiap part ditentukan. Part yang ditempel bukan berbentuk clay lagi tapi sudah berupa bentuk dari material sebenarnya, misalnya cover dari plastik dll.  Mock-up model ini biasanya dibuat beberapa jenis yang dalam dunia umum disebut prototipe. Sepanjang yang Akang ketahui sangat jarang dalam proses design di Jepang sini hanya mengambil basic design dari satu prototipe saja.

Kenapa tidak cukup dengan satu prototype saja Kang? Akang kasih contoh ya, untuk menentukan bentuk akhir knalpot jenis A dan B saja  mungkin diperlukan sampai 2-prototipe sebagai pembanding , tidak cukup dengan nempel knalpot A pada satu prototype terus diphoto kemudian dilepas dan ditempel knalpot B pada protoype yang sama terus diphoto lagi, dan terakhir membandingkan kedua photo tersebut,,,  Feelnya gak dapet lah…  yang paling tepat ya tempel knalpot A dan B pada 2 prototipe yang sama terus bandingkan langsung… lebih afdol 😀

Bandingkan dengan gambar rendering di belakangnya,, mirip kan?

7. Coloring Design

Pada tahap ini dilakukan penentuan pemberian warna dan striping (grafik) pada body motor. Dengan pemberian warna ini diharapkan body motor yang sedemikian rupa didesign dengan susah payah, daya tariknya semakin terpancar  dan merayu sang konsumen, halah 😀

Pemilihan warna ini tidak sembarangan tapi mengacu pada hasil survey lho! Contohnya saja di tanah air dalam 2 tahun terakhir warna putih mulai menjadi trend, makanya pabrikan berlomba2 mengeluarkan varian motornya yang berwarna putih, seperti Yahama Vixion putih yang pada tahun 2011 ini diperkenalkan YMKI atau penambahan striping pada Bajaj Pulsar 220 menyesuaikan selera pasar padahal sebelumnya Vixion belum ada tuh warna putih dan Pulsar 220 selalu polos tanpa stripping.

CBR 1000RR dengan 3 jenis coloring

8. Production Trial

Ini adalah proses dimana dilakukan percobaan produksi, hasil produk ini dievaluasi sedemikian rupa agar tidak terdeteksi adanya cacat. Khusus untuk body, evaluasi tidak hanya dilakukan pada kerapihan finishing saja tetapi juga meliputi evaluasi pada part2 yang memiliki nilai “fungsi” misalnya apakah design lampu yang dibuat tidak bergetar dan menyala sesuai yang dipersyaratkan, apakah switch tetap berfungsi dengan baik setelah ribuan kali ditekan, dll deh!!!

Hasil akhir Honda CBR 1000RR Fireblade

Sekian dari Akang, semoga berguna 😎

Perbandingan CBR 250R dan Suzuki GW 250 Mana yang Lebih Baik?

Berdasarkan informasi yang akang dapatkan dari dapurpacu ataupun  otomotifnet  kemungkinan besar Suzuki GW 250 yang akan dijual pada pertengahan tahun depan ini akan dibandrol  40 juta. Bandrol harga ini akan head to head dengan CBR 250R non-abs dan terpaut sekitar 6-7jt dibanding CBR 250rR versi abs dan Ninja 250R. Meskipun CBR 250R merupakan sport touring  berfairing dan GW250 adalah motor naked touring, tidak ada salahnya Akang membandingkan kedua varian ini dari sisi subjektif Akang 😀 Siapa tahu sisi penilaian Akang bisa jadi referensi  bagi masbro sekalian. Berikut perbandingan spesifikasi CBR 250R vs GW 250 yang Akang rangkum dari beberapa sumber..

Mana yang lebih baik menurut Akang? Semoga bisa jadi rujukan awal 😉

Perbandingan Spesifikasi CBR250 vs GW250

1. Penampilan

Dari segi tampilan kedua motor jelas berbeda, CBR 250R  dengan thema design sport touring berfairing dan  GW 250 dengan body naked pure touring memang memberikan nuansa lain bagi penggemar fanatik kedua pabrikan ataupun bagi para touring lover. Tapi bagi Akang, design motor berfairing memiliki kesan mewah ketimbang motor naked. Karena berdasarkan image Akang tidak ada dari sananya motor berfairing dijual lebih murah daripada motor naked lho, di mata orang kebanyakan motor fairing = Mewah 😉

Dari segi fungsionalitas pun Akang menilai meskipun GW250 didesain tanpa fairing tapi untuk menembus kemacetan sepertinya sulit dikarenakan bodynya yang bongsor. Beda halnya dengan CBR 250R, kalau sulit nerobos kemacetan ya emang dari lahirnya begitu 😀

Fitur fungsional pada kedua motor relatif berimbang, sama2 menggunakan digital speedometer, depan belakang cakram, dan sama2 sudah mengaplikasikan ban lebar 110/70-17 (depan) 140/70-17 (belakang). Masbro lebih suka yang mana? Akang sih lebih milih yang berkerudung (cbr 250) daripada yang telanjang (gw 250) Hehe 😀 Untuk lebih jelasnya biar gambar yang berbicara aja ya, gak perlu Akang bahas satu persatu….

CBR250 vs GW250 Digital Speedometer, Sporty VS Elegan pure touring

CBR250 vs GW250 Perbandingan Body Depan

CBR250 vs GW250 Perbandingan Body Belakang

2. Performance

Dari segi performance CBR 250R memiliki peak power 20kW (27PS)/8,500rpm dan torsi max 23 N.m/7,000 rpm, lebih tinggi dibandingkan GW 250 yang berdasarkan salah satu sumber Akang di Jepang merujuk pada spek GW 250 yang dipasarkan di china, hanya memiliki peak power 18kW (24PS)/8,500rpm dan torsi 22 N.m/6,500 rpm. Ditambah lagi berat kosong cbr 250 yang hanya 161 kg lebih ringan dibandingkan gw 250 yang berbobot  173 kg, power to weight ratio saat peak power CBR 250R terhadap GW 250 lebih unggul 0.17 berbanding 0.14 PS/kg. Untuk kecepatan maksimum kedua motor, Info dari bikermagz menyebutkan bahwa top speed GW 250 bisa mencapai 140 km/jam sementara top speed CBR 250R adalah 151.6 km/jam… Ketahuan kan performa di putaran atas…

Eitsss, itu di data peak power lho,,, bukan data lengkap distribusi power pada setiap putaran mesin. Kalo Akang sih gak butuh speed segitu, takuuuuut 😛 Berdasarkan informasi dari sumber yang sama dimana informasi ini sebenarnya berasal dari informasi di China disebutkan bahwa untuk mencapai kecepatan 60 mph dari posisi diam, CBR 250R memerlukan waktu 8.76 detik sementara GW 250 untuk mencapai kecepatan tersebut hanya membutuhkan waktu 8.04 detik. Akang menangkap bahwa GW 250 memiliki power yang sudah ngisi sejak putaran bawah mesin dibanding CBR 250R.  Woow mantap banget bukan, bahkan dengan bobot yang 12kg lebih berat dibanding CBR 250R, si Inazuma (sebutan lain GW 250 di Eropa) ini bisa lebih cepat meraih speed 60 mph (96 kmpj = mendekati 100 kmpj)

CBR250 vs GW250, Power dan Torsi GW 250 memang lebih rendah tapi sudah mengisi dan disinyalir lebih tinggi di putaran bawah ketimbang CBR 25R

Terus terang bagi Akang sih gak butuh top speed,,, ini motor buat touring bung!!! harus kuat bawa banyak bawaan dan box khas touring gitu loh! Power dan torsi harus sudah ngisi sejak gas baru dipuntir, selain itu harus cocok dibawa di kemacetan serta stop and go di lampu merah… Dalam penilaian Akang power yang sudah ngisi sejak putaran bawah pada GW 250 menjadi daya tarik tersendiri…

3. Segi Perawatan dan Ketersediaan Suku Cadang

Sudah bukan rahasia lagi kalau dari segi perawatan, semakin banyak jumlah silinder maka item-item yang perlu dirawat semakin banyak, ini berimbas langsung pada biaya perawatan yang semakin banyak…. sebenernya gak ngaruh sih bagi orang yang mampu nebus nih motor 😀

Tapi perlu diingat bahwa CBR 250R diusung oleh Honda sedangkan GW 250 dipasarkan oleh Suzuki. GW 250 dibuat di China dan dipasarkan sebagai produk global, dan Suzuki Indonesia cuma kebagian jatah 300 unit/bulan, bandingkan dengan CBR 250R yang setiap bulannya laris di angka 800-1,000 unit. Jumlah unit motor aja terbatas banget, bagaimana dengan suku cadang kendaraan nih? Di mata Akang sih suku cadang motor Suzuki biasanya lebih mahal, tapi bukan ini yang jadi masalah melainkan “ketersediaan”! Jangan2 harus inden suku cadang,, kayak beli motor bajaj aja 😀 …

Dalam hal perawatan, harga part/suku cadang dan ketersediaan suku cadang sih Akang jelas lebih memilih CBR 250R…

CBR 250R, Suku cadangnya Akang perkirakan gak akan sesulit memperoleh suku cadang GW 250

Dari ketiga item di atas berdasarkan penilaian subjektif Akang 2-1 Skor untuk CBR 250R,,,, masbro suka yang mana??? 【Akang】

Honda Monkey, Hobbi Motor yang Unik

Hari ini pas keluar belanja dari supermarket deket apartemen, Akang ngikutin seorang Kakek yang juga habis belanja menuju ke tempat parkir motor/sepeda. Akang terkejut ketika tiba di tempat parkir, eh ada penampakan Honda Monkey, beeeuuh,, baru pertama kali ini melihat langsung dari dekat. Tapi yang bikin terkejut lagi ternyata si Kakek yang aku ikutin ternyata penunggang si Honda Monkey ini 😀 wuihh gaoel nih kakek. Bagi yang gak tahu Honda Monkey ini kaya gimana, berikut penampakannya.

Ini nih penampakan Honda Monkey di parkiran, Bandingkan dengan ukuran sepeda yang diparkir di belakangnya

Honda Monkey,,,, Tampilan Retro, Bener2 lucu...

Langsung aja Akang samperin tuh si Kakek dan minta ijin photo2 tunggangannya 😀 Menurut penuturan si Kakek tunggangannya yang bermesin 50cc ini mampu berlari sampe 60km/jam. Si Kakek juga bilang bahwa dia punya motor lain yaitu Honda Ducks (bukan motor bebek lho, Honda Monkey model lain) yang di bore up  dari asalnya 70cc menjadi 84cc dan bisa ngacir sampe 100km/jam versi speedometer, Bener enggaknya gak tahu 😀

Perbedaan Honda Monkey (kiri) dan Honda Ducks (kanan)

Si Kakek yang kira2 usianya 60tahunan, tinggi sekitar 160cm dan berperawakan kurus ini menolak diambil photonya, sebagai gantinya Akang minta diambilin photo sama beliau sambil bergaya di tunggangannya 😀 nih dia penampakan Akang naik si Monkey 😀 ..

Riding Position Honda Monkey, Rider tingginya 173cm berat 78kg kedinginan memakai Jaket tebal dan Kupluk

Berikut spek si Honda Monkey berdasarkan situs asli dari Honda Japan (sumbernya tulisan kanji semua gak bisa copy paste 😀 )… `[Akang]

"Full transistor battery ignition" maksudnya gak pake spark plug (busi) ya???