Category Archives: Yamaha

Feel Berkendara Moge DOHC Multisilinder Memang Beda!!!

Ini share pengalaman Akang yang biasanya hanya naik motor bebek sohc 115cc atau paling banter naik motor sport sohc 200cc terus pertama kalinya naik motor Yamaha XJR 400cc dohc 4-silinder.. Weww. Kaya gimana sih bedanya, nih ceritanya…

Salah satu motor yang Akang tunggangi semasa 4l@y Supra-X 2003 (sumber gambar bejubel.com)

Pada zaman sma sewaktu masih alay, Akang pernah memiliki Supra-X 2003 danJupiter-Z 2003 (sebenernya punya ortu sih :mrgreen: ) Kemudian pergi berkelana ke Bandung jadi mahasiswa dengan menumbalkan kedua tunggangan untuk biaya kuliah,,, dan selama mahasiswa itulah Akang resmi berstatus ATPM (Akang Tukang Pinjam Motor,, haha maksa ). Pokoknya bisa dipastikan semua motor keluaran 2003-2008 yang pernah dimiliki teman pernah Akang coba, kecuali motor 2 tak,,, gak tahu kenapa pokoknya gak suka asap dan suara garingnya 2 tak!

Pada satu kesempatan ketika training di Jepang, Akang mendapat pelatihan mengendarai aneka jenis motor di salah satu Lembaga Kursus Mengemudi Motor di Kakegawa. Yang Akang kendarai saat itu ada 4 jenis motor yaitu Scooter matic Majesty 250 dan Majesty 400, serta Motor Sport SR 125 dan XJR 400, keseluruhannya adalah produk Yamaha. Dari keempat motor tersebut yang paling berkesan adalah XJR 400 dengan mesin dohc empat silinder. XJR Akang kendarai setelah sebelumnya naik SR 125 yang secara feel berkendara tidak jauh berbeda dengan Suzuki Thunder 125 yang pernah akang pinjam sewaktu jadi ATPM :mrgreen: hanya saja riding position SR125 lebih nyaman karena punggung lebih tegak tanpa membungkuk sama sekali.

Ilustrasi SR125 yang Akang naikin kali ini dibandingkan Thunder 125 yang Akang naikin selama jadi ATPM,,, hehe

Dimulai ketika duduk di atas XJR, feeling berkendara terasa langsung beda dengan motor yang pernah Akang naikin, meskipun secara riding position sama aja kayaknya dengan Thunder 125 tapi dengan jok yang sedikit terasa lebih lebar dan tanki yang gede dengan bentuk classic JDM membuat Akang merasakan nuansa berkendara yang benar2 baru, padahal baru duduk doang lho! Nyaman, anteb dan terasa stabil banget terlebih lagi Akang yang tingginya 173cm dengan leluasa kedua kaki bisa menapak ke tanah.

Akang naik SR125

Setelah menghayati perbedaan riding position, langsung starter tuh motor,,, brummm, brummm, brummmm.. gila bangeeet, merdu suaranya,, empat silinder gitu loh!!! Walaupun sudah sering liat dan denger langsung motor multisilinder tapi feel-nya beda banget dibandingkan kita menaikinya langsung!
Berat Kosong    175kg
Kapasitas Tanki    18L
Rasio Kompresi  10.7:1
Power                53 PS @11000rpm
Max Torque      35 Nm @9500rpm
Mesin                 399cc dohc 4-silinder, air cooler
Bore x Stroke   55.0 x 42.0 mm
Setelah mesin hidup masuk deh sesi test riding, yang mana merupakan bagian test membuat sim bagi warga Jepang..Pertama kali adalah test maju beberapa meter dan melakukan pengereman, terus masuk track lingkaran beberapa putaran kemudian membentuk angka delapan, dan yang terakhir mengetes kemampuan manuver belok zigzag kiri kanan. Kesan pertama ketika tuas gas/throttle Akang puntir adalah `eh, koq galakan tenaga SR 125 ya, buka gas dikit aja langsung nyelonong,,,, si XJR ini malah alon-alon gitu. Selama mengendarai di track yang Akang jelaskan di atas terus terang Akang tidak merasakan perbedaan performance baik XJR dan SR125 ( ya iya lah pelan2 gitu bawanya!) tapi sepanjang test itu Akang mengagumi betapa nikmat dan stabil naik moge dan suara yang merdunya bikin kita gimanaaaa gitu!

Akang menghayati riding position XJR dan berusaha mengenal lebih dalam tentang si kuda besi!

Setelah melewati track dasar zigzag baru kemudian instruktur membimbing Akang ke track luar yang berbentuk persegi agak oval beberapa putaran. Di Kesempatan ini Akang berhasil melaju dengan si kuda besi sampe gigi 3 saja (karena pendeknya track, paling 100m dan harus segera braking masuk tikungan) top speed yang Akang peroleh antara 70-80km/jam saja kalau gak salah. Tidak terasa Akang menghabiskan waktu hampir 20mnt dengan XJR 400 sepanjang track yang Akan sebutkan di atas (membulat, angka delapan, zigzag, dan track luar dua putaran terus aja berulang-ulang)!

Akang dibelakang Junior nih, mau disalip eh gak boleh saling mendahului,,, weeww..

Sebagai Informasi, XJR 400 sudah disuntik Yamaha sejak 2009 karena regulasi emisi bahan bakar yang semakin ketat, Yamaha tidak mengembangkan
lebih lanjut si XJR karena kalah bersaing dalam penjualan dengan Honda CB400. CB 400 sendiri pada tahun 2011 merupakan top sales Honda di Japan Domestic Market (JDM). Sebagai biker enthusiast, Akang tentunya memimpikan memiliki moge multisilinder sekelas XJR 400. Sayangnya sekarang baru kebeli sekelas si Byson, keponakannya XJR (haha maksa!)

Yamaha XJR400 vs Honda CB400, Yamaha mengalah dengan menyuntik mati XJR400

Sekarang sih Akang cukup punya pramodelnya aja dah! Hahaha Keinginan memiliki moge Akang jadikan salah satu target hidup (jelas targetnya, gimana mencapainya dan kapan pencapaiannya) dan secara otomatis berhubungan langsung dengan pendapatan kita!!! Untuk mengejar pendapatan yang ditargetkan jelas Akang harus memantaskan diri menigkatkan kemampuan dong! Setidaknya hal itu Akang jadikan motivasi hidup yang positif dengan tetap menempatkan keluarga sebagai yang utama dan menjunjung tinggi rasa syukur pada sang Pencipta atas apa yang dianugrahkan-Nya 【Akang】

Belum punya aslinya, cukup pramodelnya saja...

Advertisements

Tungganganku I: Akang Memutuskan Meminang Fazer 150 (Byson Berfairing)

Kalau masbro mengharapkan artikel pencerdasan otomotif atau informasi seputar roda dua seperti artikel lain yang biasa Akang tulis,,, stop bacanya,,, Artikel ini hanya corat-coret bercerita tentang bagaimana Akang menentukan pilihan tunggangan roda dua…

Byson half fairing aka Fazer di India (sumber gambar http://www.oneprice.in)

Sesuai dengan judul artikel ini, Akang ingin bercerita tentang pengambilan keputusan meminang Fazer sebagai persiapan kembali ke Tanah Air  pertengahan bulan Maret nanti. Artikel ini sekaligus mengawali cerita Akang dengan si kuda besi pilihan yang rencananya akan Akang pake paling lama sampai 2015. Di 2015 nanti Akang  menargetkan level UP dalam hal pendapatan dan harus memungkinkan bisa membeli motor 250cc… Insya Allah.. Kebeli motor 250cc berarti tolak ukur kemapanan keluarga, bukan berarti belabelain kredit/beli motor 250cc tapi masih belum punya roda empat atau rumah tetap.. (Konsumtif kah? Tergantung dari sisi mana masbro menilai target Akang tersebut)

Lho koq Fazer Kang? Fazer yang mana, bukannya Fazer 150 hanya dijual di India sana? Bukannya dulu bilangnya mau menunggu si Avenger 220 Kang? Kenapa gak nunggu Honda Trellis atau New Tiger Kang? Kenapa gak Vixion aja Kang? Terus terang banyak pertanyaan2 tersebut ditanyakan temen2 yang mengetahui Akang telah meminang sebuah motor 150cc…

Apa itu Fazer 150? Yang Akang maksud Fazer 150 itu adalah Byson dengan tambahan fairing Fazer original dari India sana. Bysonnya sendiri sejak February ini sudah gak inden lagi, Awal February Istri Akang sudah memesankan Byson warna merah (Akang kasih nama Kebo Merah = Si Bomer) sekarang sih si Kebo Merah sudah ngandang :mrgreen: Untuk Cowling Fazer Akang pesan dari salah satu kaskuser (id kaskus: protozz,,, katanya masih satu atap sama modifikator bro aim) yang juga menyediakan fairing original dan part R15, sekarang dalam tahap menunggu barang dari india sana,, acha, acha.. Untuk beberapa minggu sih kayaknya bakal Akang nikmati dulu si Kebo Merah Byson,,, baru setelah puas akhir Maret nanti pasangin fairing Fazernya ke workshopnya Agan protozz di Jakarta.

Kaya gimana sih Byson Indonesia ditambahin fairing Fazer original dari India, nih salah satu penampakannya diambil dari lapak Agan protozz kaksus..

Dalam artikel yang lalu Akang pernah bercerita kriteria Akang memilih sebuah motor diantaranya:
1. Dipakai harian Rumah-Kantor jarak 20km (PP 40km)
2. Irit, konsumsi BBM >40km/l jenis pertamax juga gpp.
3. Cocok kalau ditambah Box tambahan untuk pulkam atau touring jarak jauh berdua ma istri ( Istri sendiri ya, jangan istri orang lain :mrgreen: )
4. Tenaga dan Kecepatan gak kalah sama bebek dan matic biasa.
5. Harga max 25 jt (termasuk modifikasi ke ban kaki2 lebar, depan 100/80-17 belakang 120/70-17)
5. Gak banyak yang punya. hehe alias bukan motor sejuta umat, biarpun murah tapi yang pake dikit (bukan Vixion dan NMP)

Lho koq bisa dengan kriteria di atas milih Byson Kang? Si Kebo kan sekarang jumlah produksinya banyak dan dari segi harga termasuk motor sport entry level,,, nantinya jadi motor sejuta umat dong? Nah,, agar si Kebo gak jadi motor sejuta ummat, makanya ditambahin fairing Fazer… Fairing original dari negeri tuan takur, dijamin orang lain gak banyak yang punya :p dari segi budget pun dengan penambahan fairing masih dalam toleransi… Yang bikin Akang kesengsem adalah tampang setengah fairingnya yang beraroma Touring banget!!! Bayangin aja nantinya saat ditambahin box,, weittss Kebo Merah siap menjelajah negeri :mrgreen: Maunya sih CBR 150R tapi sayang ah, untuk keadaan sekarang uangnya mending ditabung dulu buat nyicil rumah dan roda empat di tahun2 mendatang dan di 2015 nanti upgradenya terasa bermakna banget 😀

Kira2 beginilah kalau Fazer dibuat mode touring ditambah kotak box es cendol dan rice coocker (sumber: website yamaha incolmos colombia)

Kenapa gak nunggu si Avenger 220 Kang? Pengen sih, berhubung gak ada kabarnya yaudah gak usah ditunggu deh! Lagian setelah dipikir2 motor yang Akang beli harus memiliki availability 100% dalam artian jangan sampai ada masalah sedikitpun dan kalaupun ada jangan sampai motor gak bisa dipake karena part untuk memperbaikinya gak ada atau harus inden. Hal ini disebabkan tunggangan Akang satu2nya modus tranportasi yang Akang punya ketika nanti kerja di Jakarta! (kalau di Kampung sih ada motor cadangan) Meskipun Avenger sungguh menggoda satu2nya chopper murah di Indonesia, sayang karena produk BAI dengan berat hati Akang jatuhkan pilihan motor pertama pada produk2 Jepang saja! Seandainya Avenger produk TVS mungkin ceritanya lain ya…

Kenapa gak nunggu Honda trellis dan New Honda Tiger? Wahhh,, butuhnya juga Maret ini, kelamaan nunggu yang gak tahu kapan keluar dan bagaimana bentuknya. Terus kenapa gak beli Tiger atau Scorpio? Alasannya karena Tiger pasti bentar lagi disuntik mati, Scorpio boros dan kemahalan soalnya kalau modif ban lebar 17inch jadi over budget!!! Kenapa gak Vixion? Ogah ah motor sejuta umat!

Sebenernya ada pilihan lain sih yaitu Thunder 125.. Selama Akang jadi ATPM (Aku Tukang Pinjam Motor) selama jadi mahasiswa sering minjem Thunder 125,,, Tenaga ya seadanya, tapi yang bikin illfill sih bukan powernya melainkan bentuknya, Thunder sekarang dah banyak berubah jadi sporty gitu,, Akang gak suka!!! Mending Thunder lama yang lebih klasik, terus kaki2 dimodif velg jari2 tapak lebar tank tanki dikasih kondom biar lebih klasik JDM… Kalau designnya sport ya sporty sekalian, atau klasik sekalian.

Byson Fazer lagi becek2an

Fazer sendiri adalah motor setengah fairing merupakan sesuatu yang aneh bagi orang Indonesia, karena dinilai gak terlalu banyak peminatnya atau alasan2 lain tertentu YIMM hanya mau menjual fersi FZ16 (byson) tanpa menghadirkan versi Fazer. Padahal di banyak negara seperti Argentina, Colombia dan India sana model setengah fairing Fazer kayaknya cukup diminati…

Aroma Touring Fazer:
Salah iklan commercial Yamaha India yang membuat Akang semakin yakin untuk meminang si Kebo dan merubahnya jadi Fazer…

Dari iklan di atas kita ketahui byson Fazer memang tidak dirancang untuk berlari di high way India atau keperluan balap2an, tapi untuk keperluan santai akhir pekan bareng anak, pacaran, nyari ide pemotretan, jalan2 di pegunungan dll. Kalau ada yang nyindir si byson lemot??? Emang Akang pikirin… 😛 Ntar deh beli 250cc yang kencang di 2015…. Nunggu Ninja 250R facelift generasi terbaru :mrgreen:  【Akang】

Fazer16 dalam expedisi jelajah negeri Colombia (sumber rutafazer16.incolmotos-yamaha.com)

JDM 2011 Yamaha WR250R/X Terlalu Kuat Bagi Kawasaki KLX250/D-tracker

Lanjut nih laporan Akang tentang JDM 2011. Info yang Akang bagi sekarang adalah pertarungan kelas motor dirt bike kelas 250cc Yamaha VS Kawasaki. Honda tidak disertakan karena hanya mengeluarkan model kompetis CRF 250R dan dirt bike XR230 (bukan 250cc), sementara Suzuki mengeluarkan dual purpose yang beraliran klasik Grass Tracker 250, bukan murni dirtbike makanya Akang tidak disertakan dalam komparasi motor dirt bike ini.

Untuk tahun 2011 Yamaha berhasil menjual varian WR250X dan WR250R sebanyak + 1,400 unit serta varian Serow 250 sebanyak 1,500 unit,, total ketiga varian ini 2,900 unit. Ini belum termasuk si unique dirt bike Yamaha Tricker yang data penjualannya belum akang dapatkan. Sementara Kawasaki hanya berhasil menjual 442 unit varian KLX 250 dan + 400 unit varian Dtracker,, total penjualan kedua model + 842 unit..

Seperti Akang pernah tulis di artikel sebelumnya spesifikasi dan harga kedua jenis motor ini lumayan berbeda jauh, untuk versi Supermoto Yamaha WR250X produksi asli Jepang memiliki power 31 PS @ 10,000 rpm dan torsi  24 N.m @8,000 rpm (bandingkan dengan Ninja 250 31PS @11,000rpm 21Nm @8,500 rpm) dijual seharga 732,400 yen (Rp 80.6 jt) dan untuk versi dirtbike WR250R 701,400 yen (Rp 77.2 jt)  sedangkan Kawasaki Dtracker produksi Thailand dengan power seadanya 24PS @9,000rpm/ 21 Nm @7,000rpm dijual dengan harga 548,000 yen (Rp 60.3 jt) dan dan versi dirtbike KLX 250 seharga 528,000 yen (Rp 58.8 jt)

Setelah ngucek2 blog orang2 Jepang ternyata terdapat beberapa hal yang mendasari kenapa WR250-series lebih laku dibanding KLX-series.. Berhubung WR250-series gak dijual disini Akang kayaknya gak perlu nyampein pandangan orang2 Jepang terhadap WR250-series dan KLX250-series, gak ada gunanya 😀 Hanya ingin berbagi info bahwa dalam kelas garuk tanah dan supermoto 250cc Yamaha perlu diperhitungkan 😉 Ntar deh kalau ada pabrikan Jepang lain selain Kawasaki ngeluarin dirtbike, Akang kasih bocoran hal2 apa saja yang harus diperhatikan dalam memilih varian dirtbike atau supermoto 【Akang】

Masih ragu kemampuan supermoto Yamaha WR250X, liat deh video berikut, Ninja 250R aja takluk bila diajak drag 400meteran..

Yamaha WR250R dan WR250X – Motor di Parkiran Tempat Kerjaku Bagian III

Di artikel ke-3 tentang motor2 di parkiran perusahaan Akang ini akan membahas motor Yamaha WR250R dan WR250X, dua motor yang memiliki platform sama namun dirancang untuk 2 genre berbeda WR250R sebagai Dirt Bike/Motor Trail dan WR250X sebagai Supermoto Yamaha.

Penampakan WR250R dan WR250X di Parkiran,,, Heran nih kedua motor gak pernah berdempetan parkirnya

Sebenernya artikel ini sudah Akang tulis sejak lama di draft wordpress, dan perasaan pernah dipublish juga tapi koq gak ada,, apa kehapus kali ya!? makanya Akang tulis ulang aja 😀 Selamat menyimak

Riding Position
Untuk orang Indonesia, ini nih faktor utama yang bikin gak banget, karena tinggi seat-nya aja 870mm untuk WR250W, dan 895mm untuk WR250X. Akang pun yang tingginya 173cm masih jingjit 😀 hehe. Silakan liat aja kalau gak percaya.

Rider tingginya 171 cm dengan berat 60kg... baik WR250R maupun WR250X keduanya Jingjit detected..

Meskipun bodynya tinggi, berat kosongnya cuma 134kg koq! bandingkan dengan cbr 250 yang bobot kosongnya aja 160kg. Di kantor Akang para rider WR250 ini usianya masih dibawah 40 tahun, baik yang WR250R maupun WR250X. Tapi di jalanan sana Akang banyak menyaksikan para rider usia 40-50 tahunan pun masih mampu menjinakkan nih motor koq.
Di Indonesia sendiri Yamaha tidak menjual kedua motor 250cc ini, tapi jangan khawatir soalnya ada produk sejenis dari Kawasaki, D-Tracker 250 dan KLX 250 yang masing2 memiliki tinggi seat 860mm dan 890 mm dengan berat kosong 138kg,, sama persis dari berat dan riding position, beda model dan performance doang 😀
Varian Dirt Bike dan Varian Supermoto
Bisa dibilang Yamaha dan Kawasaki memfasilitasi kemauan biker di Jepang sini, ini terlihat dengan dilengkapinya varian WR250 dengan tipe X supermoto dan R untuk garuk tanah, begitu halnya dengan kawasaki yang menghadirkan D-Tracker 250 untuk tipe supermoto dan KLX 250 untuk yang suka kotor2an, varian yang sama dijual juga di Indonesia.
Secara visual selain perbedaan garis body WR250X dan D-Tracker, perbedaan juga terliht dalam pemilihan ukuran ban belakang, meskipun sama2 17inch
D-Tracker menggunakan lebar 130mm sementara WR250X menggunakan ban lebar 140mm. Sementara untuk roda depan sama2 menggunakan ban 17inch lebar 110mm. Menurut Akang mah WR250X ban lebih gede, lebih gagah membawa penampilan keseluruhan jadi tambah keren 😀

WR250-series, Dua motor dari satu platform beda genre beda rasa..

Untuk yang tipe Trail, WR250R dan KLX 250 sama2 menggunakan ukuran ban yang sama, 80/100-21 untuk depan dan 120/80-18M untuk belakang, menggunakan tipe ban khas motor kotor2an, “I can go to anywhere”

Engine dan Performance
Kalau dilihat dari performance, D-Ttracker yang dijual di Indonesia harus angkat tangan terhadap WR250 nih. Power tertinggi D-Tracker/KLX series adalah 24PS @9,000rpm dan torsi 21Nm @7,000rpm, sepertinya bakal mudah diasapi oleh WR250X yang memiliki power maksimum 31PS @10,000rpm dan torsi 24Nm @8,000r/min… Ninja250 aja cuma punya power max 31PS @11,000rpm dan torsi 21Nm @8,500rpm.. Bener-bener supermoto yang kentjang nih, ninin aja bisa diasapin IMHO (kenyataan sih gak tahu, lha wong beda design body :D)
Kedua motor di atas ditenagai engine 249cc single silinder, DOHC dengan sistem pendingin  water cooler, kedua motor ini sama-sama mengaplikasikan fuel injection. Perbedaan mencolok engine kedua motor ada pada spesifikasi ruang bakar, si D-Tracker/KLX series diameter piston x panjang stroke = 72.0mm x 61.2mm dengan kompresi 11.0:1 sementara WR250 series 77.0mm x 53.6mm dengan rasio kompresi 11.8:1. Terlihat jelas WR250X diameternya lebih panjang dengan pergerakan yang lebih pendek dibanding Dtracker/KLX, hal inilah yang ditenggarai WR250X lebih bertenaga pada putaran tinggi (tapi bisa nyampe 31PS gitu ya,, mantap!!!)

Berikut Video bukti kehebatan performance WR250X,,, si Ninja 250 aja kalah adu cepet di 400m pertama 😀
Dengan rasio kompresi yang tinggi WR250X mau gak mau harus dikasih minum
pertamax, setiap liter bahan bakar yang diminum si kuda besi mampu membawa ridernya sejauh 34.0km bila dikendarai pada speed konstant 60km/h, berarti sama aja dengan cbr250 ya,, tp masa motor kentjang cuma dipake di 60km/j 😀 Kalau jalan kosong sesekali pastinya dipake ngacir dong…
Kompetitor WR250-series di Jepang
Yamaha WR250X merupakan dirt bike paling mahal di Jepang. Dijual on the road pada harga 732,900 yen ( Rp 80,6jt untuk kurs 1 yen = Rp 110) dan tipe WR250R dibandrol 701,400 yen (Rp 77.2 jt) sementara si D-Ttracker dibandrol 548,000 yen (Rp 60.3jt) dan KLX 528,000 yen (Rp 58.1 jt). Perbedaan harga untuk tipe supermoto bisa nyampe Rp 20jt,, wowww fantastis!!! Ditenggarai karena D-Tracker/KLX diproduksi di Thailand maka cost produksi bisa ditekan serendah mungkin, beda dengan WR250X-series yang asli made in Japan masbro, ya iya lah mahal!!! Apakah nilai 20jt ini senilai dengan power 31PS (selisih 7PS) dan kualitas asli Japan???

WR250X VS Dtracker, Performance VS Harga, Made in Jepang VS Thailand

WR250R VS KLX 250, Performance VS Harga, Made in Jepang VS Thailand

Kompetitor lain di kelas 250cc ini bisa dikatakan tidak ada. Untuk kelas 250cc ini varian Honda dan Suzuki lebih condong untuk race dimana Honda memiliki CRF250R dan Suzuki dengan RM-Z250.  Untuk fight di kelas dirt bike dan supermoto harian cc kecil Honda menghadirkan XR230 dan XE230 Motard dengan kapasitas 230cc.

Honda dengan XR230 series untuk fight di kelas supermoto dan dirt bike

Yamaha SR400 dan Yamaha SRV250 – Motor di Parkiran Tempat Kerjaku Bagian II

Di Artikel bagian kedua tentang motor2 yang nangkring di parkiran tempat kerja Akang ini yang jadi bintang utama adalah jenis motor beraroma klasik Yamaha SR. Motor model ini terdapat beberapa klasifikasi SR400, SR500, SRV250 dan SR kelas2 cc kecil, namun yang akan Akang bahas sekarang adalah SR400 dan SRV250 yang suka nangkring di parkiran 😀  SRV250 termasuk tipe kelas menengah 250cc dua silinder, sedangkan SR400 yang hanya satu silinder tapi kapasitas lebih besar yaitu 400cc.

Klasik banget nih SRV250 (kiri) dan SR400 (kanan)

dari 15-30 motor yang biasa nangkring di parkiran terdapat 1 motor SRV250 yang rutin hampir selalu nangkring setiap hari dan 2 motor lain yaitu SR400 dan SRV250 yang hanya sekali2 saja nongol kalau cuaca lagi cerah di musim semi atau musim gugur seperti bulan Oktober ini.

Riding Position dan Para Rider Pengguna SR Series
SR400 memiliki bobot 174kg dengan tinggi jok dari tanah 790mm, beda halnya dengan SRV250 meskipun riding positionnya hampir sama saja namun tinggi jok lebih rendah yaitu 760mm dan bobot lebih ringan yaitu 144kg. Kapasitas fuel tank SR400 adalah 12L dan SRV250 lebih banyak 1L. Dari segi riding position, SR series didesain sebagai motor touring bukan sebagai motor dalam kota untuk bermanuver dalam kemacetan.

SR400 Pas banget buat orang yang tingginya 171cm

Salah satu pemilik SRV250 30tahun tinggi 165cm, pas banget tanpa jinjit naik SRV250 (photo paling belakang SR400)

Dari tiga rider motor klasik ini tingkatan usianya berbeda-beda. Di Indonesia Akang menilai bahwa motor klasik diidentikan dengan usia 40 tahun ke atas, tidak begitu halnya dengan di Kantor Akang, rider SRV250 dalam photo di atas berusia 30 tahunan sedangkan dua rider lainnya sekitar 40 dan 45thn.

Di Jepang sini model klasik tidak diidentikan jadul atau ketinggalan zaman, justru aroma klasik diidentikan timeless design atau tidak lekang ditelan zaman. Sementara di Indonesia selera masyarakat selalu berubah2 sesuai perkembangan zaman, motor harian beraroma klasik dipastikan kalah pamor ketimbang motor yang sporty. Khusus untuk model SR400 dari 1978 hingga kini masih diproduksi sedangkan SRV250 sudah lama discontinue (kapan tepatnya Akang tidak tahu 😀 ). SR400 dari 1978 sampai 2008 desain body luar tidak mengalami perubahan berarti bahkan pada tahun 2009 pun meskipun ada perubahan tetapi yang utama hanya pada sektor pengabutan bahan bakar menggunakan FI dan upgrade komponen body dengan bentuk luar yang sama.

Spesifikasi Engine
SR400 ditenagai engine 399cc 4-tak SOHC dengan pendingin air cooler. Tenaga yang dihasilkan 19kW(26PS)@6,500rpm dengan torsi 29N・m (2.9kgf・m)@5,500rpm. Meskipun pada 2009 sudah mulai menggunakan sistem Fuel Injection namun sistem starter masih menggunakan kick starter tanpa adanya tombol electric starter (Klasik abis ya! :D) Untuk model SRV250 power max yaitu 27ps @8,500rpm dan torsi 25N・m (2.5kgf・m) @6,500rpm. Bandingkan dengan motor 250cc yang dijual di Indonesia, Ninja 250 dengan 2 silindernya menyemburkan tenaga max 31PS @11,000 rpm dan torsi 21N・m @8500 rpm… terlihat motor SR400 dan SRV250 didesain overstroke untuk menghasilkan torsi yang tinggi pada putaran rendah bukan untuk menghasilkan power yang tinggi, murni buat touring nih,, CMIIW

Harga dan kompetitor
Di Jepang sini SR400 ternyata lumayan mahal lho, harga resmi di situs yamaha 577,500 yen (Rp 63,5 jt). Yamaha sendiri untuk motor model klasik pada 2011 ini hanya menjual satu varian saja ya si SR400 ini. Padahal kompetitor lain minimal mengeluarkan dua varian lho, Yuk kita tengok amunisi motor klasik pabrikan Jepang lainnya..

Enak banget ya hidup di Jepang, tinggalkan sesuaikan dengan kapasitas dompet dan selera sudah bisa bergaya dengan motor klasik, dan tanpa rasa risih dibilang jadul 😀 Gimana nih menurut masbro semua, dengan banyaknya model klasik di atas apakah SR400 nyantol di hati? Terus terang Akang kepincut sama Honda VTR250, meskipun tidak bisa dibilang  klasik murni tapi modelnya cukup beraroma klasik…

Yamaha Tricker – Motor di Parkiran Tempat Kerjaku bagian I

Dalam artikel ini Akang ingin berbagi info tentang motor harian yang dipakai orang jepang untuk pergi ke kantor. Dalam hal ini terbatas hanya pada perusahaan tempat Akang bekerja saja. Pada artikel ini Akang perkenalkan Yamaha Tricker 250cc.
Berbeda halnya dengan di Indonesia dimana parkiran speda motor didominasi oleh motor bebek dan sebagian kecil motor sport itupun paling banter yang 250cc, di parkiran motor tempat Akang bekerja secara umum motor dibagi dalam 3 kategori yaitu kategori motor kecil 50cc, motor sedang 51-250cc dan motor besar >251cc. Yamaha Tricker yang Akang bahas dalam artikel ini merupakan kelas motor sedang 250cc.

Penampakan Yamaha Tricker di Parkiran Tempat Kerja Akang

Orang yang menggunakan motor sebagai kendaraan harian di Perusahaan Akang jumlahnya sangat sedikit, kebanyakan 90% (nilai kira2 aja nih :D) memakai kendaraan roda empat. Pada hari2 biasa (cerah, dan suhu tidak terlalu dingin) jumlah motor yang ada di parkiran bervariasi mulai dari 15 sampai 30 motor. Dari jumlah ini hampir tidak ada yang sama, kecuali beberapa tipe motor saja salah satunya ya si Tricker ini yang sampai dimiliki oleh tiga orang.

Riding Position dan Para Rider Pengguna Tricker.
Tricker memiliki bobot bersih 118 kg ditambah dengan kapasitas bensin 6 liter berarti kondisi full tank saja tidak lebih dari 124 kg, wooowww ringan banget kan masbro, apalagi untuk ukuran 250cc sama dengan Yamaha Vixion yang berat full tanknya 125kg. Ketinggian jok 31.1 inch dengan lebar jok yang kecil, sebagai pembanding Yamaha Vixion saja tinggi joknya 31.4 inch dengan jok yang lebih lebar. Para rider pengguna tricker yang Akang kenal berusia sekitar 30-40 tahun dengan rata-rata postur (maaf) pendek 160-165 cm.

Rider tingginya 171 cm dengan berat 60kg

Physical measures and capacities:
Dry weight                            :118.0 kg (260.1 pounds)
Power/weight ratio          :0.1610 HP/kg
Seat height                           :790 mm (31.1 inches) If adjustable, lowest setting.
Overall height                    :1,130 mm (44.5 inches)
Overall length                    :2,000 mm (78.7 inches)
Overall width                     :810 mm (31.9 inches)
Ground clearance            :270 mm (10.6 inches)
Wheelbase                          :1,330 mm (52.4 inches)
Fuel capacity                     :6.00 litres (1.59 gallons)
Chassis, suspension, brakes and wheels:
Frame type                           :Steel semi-double cradle
Front suspension               :Telescopic forks
Front suspension travel  :180 mm (7.1 inches)
Rear suspension                :Swingarm
Rear suspension travel  :172 mm (6.8 inches)
Front tyre dimensions   :80/70-MC19
Rear tyre dimensions     :120/90-MC16
Front brakes                      :Single disc, diameter 220 mm (8.7 inches)
Rear brakes                        :Single disc, diameter 203 mm (8.0 inches)

Spek Engine
Kuda besi satu ini ditenagai mesin 249cc single cylinder 4-cycle, SOHC, Air cooler, carburator sanggup memuntahkan power hingga 19 HP @7,500 rpm dengan torsi 18.8 Nm @6,250 rpm. Coba masbro bandingin dengan KLX250 yang memiliki power 18kW@9,000rpm dan torsi 21N @7,000rpm tapi memiliki bobot kosong 138kg.
Engine and transmission Specification:
Displacement               :249.00 ccm (15.19 cubic inches)
Engine type                   :Single cylinder, four-stroke,
Power                              :19.00 HP (13.9 kW)) @ 7500 RPM
Torque                            :18.80 Nm (1.9 kgf-m or 13.9 ft.lbs) @ 6250 RPM
Top speed                       :115.0 km/h (71.5 mph)1/4 mile (0.4 km):17.800 seconds
Compression                 :9.5:1
Bore x stroke                :74.0 x 58.0 mm (2.9 x 2.3 inches)
Valves per cylinder    :2
Fuel system                    :Carburettor. Mikuni MV33/1
Fuel control                   :SOHC
Ignition                            :CDI
Lubrication system     :Wet sump
Cooling system             :Air
Gearbox                           :5-speedTransmission type,
final drive                        :Chain
Clutch                                :Wet, multiple disc

Color Variation
Si Tricker tersedia dalam dua warna yaitu Tricker Black dan Tricker Orange. Di tempat Akang sendiri dari 3 motor ini 2 diantaranya si Tricker Hitam. Silakan dikunyah2 nih kedua penampakannya… 😀

Yamaha Tricker Black - Mantap buat yang gak mau gampang keliatan kotor 😀

Warna Silver sebagai dasar dan orange sebagai kelirnya membuat nuansa motor garuk tanah ini sayang kalau kena lumpur 😀

Harga dan kompetitor
Di jepang sini harga jual Yamaha Tricker 457,800 yen atau 50,3 jt (untuk kurs 1 yen=Rp 110). Akang cukup kesulitan mencari kompetitor yang sepadan, maklum si Tricker ini dari penampakan saja cukup nyeleneh, motor garuk tanah beraroma supermoto dengan dimensi terbilang kecil. Sebagai perbandingan Akang bandingkan dengan KLX250 seharga 528,000 yen (58,1 jt) dan Honda XR230 seharga 492,450 yen (54,2 jt). Secara dimensi KLX250 seharusnya tidak bisa dibandingkan secara fair karena terbilang agak besar sih 😀 Ditambah lagi kedua varian tersebut sudah 6 percepatan sementara Tricker hanya 5 percepatan saja.. Akang tidak menampilkan spek masing2 kompetitor, hanya nampilin penampakannya saja…

Kompetitor terdekat Tricker, XR230 Rp 54,2 jt - KLX250 Rp 58,1 jt

Berhubung yang ada di Indonesia untuk motor jenis ini hanya ada KLX250 dan jenis supermoto-nya D-Tracker 250,, masbro yang posturnya pendek mungkin agak kesulitan kali ya nunggangin nih motor 250cc, cocoknya kalau postur kecil nunggang yang 250cc ya Tricker. Terpaksa deh kalau mau cocok secara dimensi motor ya KLX125 atau Dtracker 125 yang dipilih karena secara dimensi lebih kecil daripada yang 250cc 😀

Keunggulan Fazer 150 (FZ16 aka Byson berfairing)

Menindaklanjuti artikel Akang tentang mencari tunggangan yang cocok dilihat dari biaya operasional dan gak bolehnya memilih tipe motor cruiser oleh istri akhirnya atas berbagai info dan racun2 dari kaskus maka dipilihlah Yamaha Byson. Kemarin Akang menyuruh istri untuk bertanya ke dealer yamaha mengenai inden si Kebo, dan diperolehlah keterangan membahagiakan masbro, katanya inden sekarang “hanya sebulan”. Inden bulan ini bulan depannya dianterin ke rumah :)…

Balik ke judul artikel ini, malam ini Akang nyari referensi harian pemakaian si Byson di India sana via youtube mulai dari perbandingan Byson dengan NMPreview Byson berkerudung (aka Fazer 150), dan terakhir curhatan pemilik Fazer 150. Khusus untuk curhatan fazer150 ada yang ingin Akang shared nih,,

Is Fazer a boring vehicle? Is it not fit for touring? Does It cuise at only 75 kmph? (Si Fazer membosankan? Gak cocok buat touring? Cuma bisa ngacir 75 kmpj?) Di akhir artikel ini Akang tampilkan jawaban si pemilik yang di-crop langsung dari youtube.

Sejatinya FZ-Series memang didesaign untuk daratan Hindustan. Negara yang luasnya hingga 3.3 jt km persegi ini kondisi sarana dan prasarananya tidak jauh berbeda dengan negara kita. Jalan tanah berbatu, medan yang sulit sampai jalan berlumpur. Sepertinya si Byson ini didesign agar bisa diterima di segala medan. Didesign dengan power dan torsi pada rpm rendah, sehingga konsekuensinya kurang galak di putaran atas, hal yang bekebalikan dengan Pulsar-series yang merupakan rival utama dari pabrikan lokal India. Coba masbro pikirin apa ada pemakaian motor harian yang kebut2an di atas 100km/jam di jalan tanah berbatu? yang dipake kan gear rendah pada putaran yang gak terlalu tinggi, kalau melihat faktor fungsional yang ini maka bisa dipastikan Byson dan FZ-series lebih superior dibandingkan varian pulsar.

Byson FZ-Series Mantap menembus belokan pegunungan berkabut

Byson FZ-Series dengan ban gambot mantap di jalan licin

Byson FZ-Series Handling yang mantap enak dipake rebahan di jalan berkelak-kelok pegunungan

Byson FZ-Series mejeng di jalanan pedesaan yang asri

Byson FZ-Series Menembus tanah basah berlumpur

Byson FZ-Series Menembus medan berat tanah kering

Byson FZ-Series menghadapi jalanan tanah berbatu

Byson FZ-Series menembus tanah berlumpur

Byson FZ-Series dipake touring ke pantai berpasir pun tetep Okeh!!!

Byson FZ-Series nyaman dipakai jarak jauh

Byson FZ-Series, review si pemilik nyampe 126 kmph padahal di Indonesia rata2 topspeed 115 kmpj

Semua gambar di atas bisa menjelaskan Is Fazer a boring vehicle? Is it not fit for touring? Does It cuise at only 75 kmph? Inilah alasan2 lain yang membuat Akang memutuskan untuk meminang si Kebo…